Garuda Wisnu Kencana

20160303_104604

Ok, I know it’s been around 2 weeks after I visit GWK. I didn’t have time to write because I was travelling to Bandung and Bogor.

I went to Garuda Wisnu Kencana after Melisa told me that there were some performances there. This place is located in Jimbaran. At that day I spent my whole time there. GWK has several sites, amphitheater, Lotus Pond (this is my favorite), Garuda Plaza, Kura – Kura Plaza, etc. The staff will give you a map when you get in.

I directly went to Amphitheater because watching Bali traditional dances was my first intention. Unfortunately, I was late. It was past 11 AM. I thought I miss the first round of performance, but apparently it was scheduled at 2 PM, too. The performances were scheduled every hour and some will be replayed once.

You can go to another site to kill the time while you waiting for the next performances.You can go to Kura -Kura Plaza. It was a small garden with a pond and some turtle statues.

20160303_104253After that you can go to Wisnu Plaza and Garuda Plaza. What amazed me was I can see the view of sea from Wisnu Plaza and you can see this amazing view of Lotus Pond from Garuda Plaza.

20160303_104730

(It was more beautiful if you see it directly ;( )

20160303_105300

(this is Lotus Pond)

When I moved to Lotus Pond, I felt like I was in a fantasy. It was the most beautiful spot of all to me.

20160303_105611 The other spot was Tirta Agung but it was far from this. Besides, there was only a statue of hands. It’s Wisnu’s hand I guessed. I just saw it from above and I only love the view of the stones

20160303_143932

After I explored GWK, I just enjoyed the dance performance. I was there until late evening because I wanted to see Kecak Dance. This Kecak Dance isn’t the same with Kecak Uluwatu. It was actually Wisnu Parade Dance with additional vocal of “kecak”, so it was named Kecak Garuda Wisnu. To be honest, it was not the kind of Tari Kecak I wanted to see, but it was enough. At least, I kind of achieved my dream to watch Tari Kecak directly.

20160303_183951

I thought I was gonna die

This article won’t be written in English because 1. Remember about the true meaning in the previous article and 2. I lost my ability to think because of the recent event.

 

Travelling dengan pesawat udara tentu sudah menjadi hal yang sangat biasa sekarang, bahkan ada slogan “Everyone can fly”. Aku juga sudah sangat terbiasa bepergian dengan alat transportasi ini. Aku juga sudah pernah mencoba beberapa maskapai dari yang paling murah hingga yang terkenal paling mahal di Indonesia, dengan beberapa kondisi cuaca. Aku juga sudah pernah berada di atas pesawat pada saat subuh, pagi hari, hingga malam hari. Bukan bermaksud pamer, tapi ada kaitannya dengan kejadian barusan atau mungkin juga dengan beberapa kejadian yang sudah lama terjadi.

2015-02-01 09.31.25

Sejujurnya aku tidak tahu detail syarat kondisi udara yang baik dan dapat ditoleransi untuk melakukan penerbangan itu seperti apa. Yang ada di dalam pikiran saya sejak dulu adalah asal cuaca cerah, tidak hujan, dan tidak berawan. Tetapi aku sudah mengalami penerbangan di setiap kondisi itu: cuaca cerah, hujan deras, berawan, dan baru saja hari ini ditambah dengan ditemani kilat – kilat di langit.

Penerbangan mengerikan yang pertama kali aku alami pada bulan Februari 2015 lalu. Saat itu, aku sibuk mengurus masalah mata kuliah KKN sehingga aku harus terbang dari kota ke kota dalam 1 minggu. Dari Palembang aku berangkat subuh karena itu adalah penerbangan paling awal.

2015-02-04 05.38.27 Kondisi bandara dan pesawatpun sama: sangat sepi sehingga aku merasa menjadi pemilik bandara dan maskapai itu. Bahkan aku masih bisa melihat dengan jelas bulan purnama dengan posisi yang seolah – olah sejajar denganku.

2015-02-04 06.03.19Untunglah saat itu kondisi cuaca di Jogja bagus, tidak seperti saat aku pulang ke Lampung beberapa hari kemudian.

Saat itu, aku harus transit terlebih dahulu di Jakarta, sedangkan penerbangan dari Jogja terlambat sekitar 1 atau 2 jam (aku lupa) karena lalu lintas udara yang padat. Aku ketinggalan pesawat yang seharusnya sampai di Lampung pukul 1 siang, sehingga dipindah ke jam yang lebih sore. Suasana horor mulai terasa saat pesawat akan mendarat di TKG. Waktu itu, kondisi cuaca di sekitar Lampung mendung sehingga terjadi turbulensi. Menurutku, waktu itu adalah turbulensi yang terparah dari yang pernah aku alami. The flight attendant herself even gasped while she gave the announcement. Bagiku, yang punya semacam phobia jatuh karena pernah kecelakaan, tentu akan menjadi ketakutan tersendiri. Hal yang sama juga aku alami saat aku kembali ke Jogja sekitar 1 minggu kemudian. Aku bahkan tidak bepergian selama beberapa bulan karena trauma.

Penerbangan berbahaya lain yang pernah aku alami adalah saat aku ke Bali akhir bulan Juni 2015. Entah kesialan apa dan dari siapa saat itu Gunung Raung sedang erupsi. Aku baru tahu setelah dengan soknya check-in, duduk di ruang tunggu, dan ngobrol dengan penumpang lain di sebelah kursi. Penerbangan hari itu pun dibatalkan dan aku reschedule 2 hari lagi. Dengan modal nekat karena kebelet banget mau kesana. Dua hari kemudian, berangkatlah dari Bandara Adi Sucipto walau awalnya waswas. Sesaat setelah diumumkan pesawat akan mendarat, muncul pengumuman baru kalau pesawat dialihkan ke Bandara Juanda, Surabaya. Aku, yang memang dasar pikirannya sudah dipenuhi dengan kata “Bali”, mencoba meyakinkan diri kalau tadi salah dengar. Dan… mendaratlah kami semua di Juanda International Airport. Mungkin, karena melihat muka – muka memelas kami dan banyak bule yang ngomel – ngomel, sekitar 3 jam kemudian pesawat diberangkatkan ke Bali.

2015-07-12 09.49.40

Waktu itu, aku berpikir bahwa penerbangan yang lebih riskan daripada menghadapi turbulensi itu adalah menghadapi abu vulkanik. Selain jarak pandang (menurutku) menjadi jauh lebih pendek (percaya atau tidak, kalian tidak bisa melihat apa – apa. Kalian pernah melihat permukaan kertas buram? seperti itu lah kira – kira saat aku melihat ke luar jendela), abu vulkanik yang ada di landasan juga memungkinkan membuat pesawat tergelincir. Dari pengalaman hujan abu Gunung Kelud waktu itu, abu vulkanik ternyata licin loh!

Aku mengira penerbangan paling mengerikan adalah sewaktu melawan erupsi Gunung Raung waktu itu. Tetapi tidak. Penerbangan paling mengerikan baru saja aku alami beberpa jam lalu. Bukan hanya karena cuaca mendung, berawan, dan hujan. Tetapi juga kilat di mana – mana. Selain takut jatuh, aku juga takut dengan kilat. Apalagi kalau diikuti bunyinya setelah itu. Jadi, berasa dapet paket komplit hari ini. turbulensi yang sebelas dua belas dengan turbulensi sewaktu pulang ke Lampung plus kilat, mana mau mendarat pula.

Lightning-Beautiful-Natural-Phenomenon55

(Source: google)

Seolah – olah mau terjun bebas pesawatnya. Badanku sudah tegang dan gemetar saat itu. Perempuan yang duduk 1 row dengan ku juga kelihatan sekali tegangnya, bahkan aku mendengar seseorang sudah komat – kamit berdoa tadi. I thought I was going to die. Aku bahkan sudah pasrah, kalo memang pesawat itu bakal jatuh, ya jatuh aja. Aku rela.

Saat mendarat, aku lega sekaligus depresi. Lega karena pikiran – pikiran jahat selama turbulensi tadi tidak terjadi. Depresi karena I felt like I had lost my mind. Aku sadar mukaku sudah seperti muka orang kehilangan arah, bahkan aku kesulitan turun dari pesawat karena kakiku masih gemetaran. Entah itu karena kedinginan, atau masih ketakutan, atau keduanya. Rencana pulang ke Palembang pun gagal karena aku mana berani pergi – pergi lagi setelah ini. Aku butuh istirahat selama beberapa bulan untuk menenangkan diri and let the weather back to normal.

Selama aku ada di taxi menuju tempat tinggalku, aku tiba – tiba ingat kata – kata Asma tentang pengalaman Trinity. Saat itu, dia sedang dalam perjalanan ke Australia kalau tidak salah, dan pesawatnya juga mengalami turbulensi parah. Dia juga berkata pesawatnya saat itu berada dekat dengan sungai yang penuh buaya. Dari penggalan cerita itu aku jadi memiliki pikiran yang sama dengan Trinity “semakin lama, aku semakin parno naik pesawat.” Tetapi walau sempat berteriak pelan, setidaknya aku tidak seperti Trinity tadi yang berteriak heboh sampai dimarahi oleh pilotnya.

Kesan dari kejadian hari ini cuma 1: Apakah orang – orang Indonesia sesakti itu sampai – sampai di cuaca buruk pun penerbangan tetap dilakukan atau…..

In your mind, What will your future like?

I won’t write this one in English because Bahasa Indonesia is more dramatic hahahah.. I’m serious, sometimes Bahasa Indonesia could give you the real meaning of something than English. I don’t know about other language.

it’s about the future. Di dalam bayanganmu, bagaimana kehidupanmu di masa depan? Di bayanganmu, di masa depan kamu akan menjadi apa? Presiden? Dokter? Pengusaha? Dosen? Anything else?

Aku sudah memiliki bayangan, well, aku lebih suka menyebutnya mimpi, bagaimana masa depanku nantinya. Aku akan menyimpan mimpi itu hanya untuk diriku, atau mungkin aku akan membaginya dengan orang – orang yang sangat aku percaya. Sama seperti aku memilih universitas di saat akhir SMA. Aku sudah memiliki rencana dan I kept it secret. Just say that it was my wish and something told me that “You can’t tell anyone what you wished, or else it won’t come true.” And yeah, it came true, walau agak melenceng sedikit. Mungkin karena aku memberi tahu kepada satu atau dua orang waktu itu. I don’t know.

Aku mengira kehidupan setelah kuliah ini kurang lebih akan seperti saat aku memilih universitas itu. Aku hanya perlu memiliki rencana dan usaha dan mungkin sedikit keberuntungan, then boom! I’ll get it. Tapi, sayang, ternyata pilihan hidup paska kuliah tidak se sederhana itu. Realita akan membuat semua rencanamu berantakan, atau paling tidak berbeda 180 derajad. Hanya sedikit orang yang rencananya berjalan sesuai keinginan.

Sebelum aku lulus aku berencana untuk tinggal dulu di kota ini sampai aku mendapat pekerjaan yang pasti. Aku bukan tipe orang yang berpikir “yang penting aku dapat pekerjaan.” Aku akan mengajukan lamaran hanya ke perusahaan yang menawarkan pekerjaan yang memang sesuai dengan minatku. Oleh karena itu, di saat teman – temanku mengunjungi berbagai Job Fair dan melamar pekerjaan kesana kemari, aku masih disini dan hanya mendaftarkan diri di beberapa lowongan pekerjaan.

Seorang yang aku kenal pernah meberiku sebuah saran, tapi hanya ku dengar dan aku bantah selebihnya. Hari ini, aku bertemu dengan seseorang. It was our first meeting and she was a total stranger to me. Dia memberi saran yang sama, seolah – olah saran itu sudah di fotocopy. Kau tahu apa yang berbeda? Aku mendengarkan saran dari orang asing ini dan kata -katanya masih menghantuiku hingga saat ini. Bahkan, kata – katanya membuatku ragu dengan rencara yang sudah aku tentukan itu karena menurutku perkataannya realistis. Ironis sekali ucapan orang asing malah aku terima dengan baik dibanding seseorang yang aku kenal hanya karena orang itu sudah terlalu banyak ikut campur di kehidupanku.

Setelah percakapan itu, banyak hal yang mengganggu pikiranku. Aku memang sempat berpikir untuk pulang, tetapi beberapa perkataannya tadi membuatku benar – benar mempertimbangkan rencana untuk pulang itu. Disaat seperti ini, aku tidak bisa bersikap idealis lagi. Aku memang tidak peduli tentang hal ini sebelumnya, tetapi setelah aku lulus dan berada di posisi yang baru,  pola pikirku juga berubah. Banyak hal yang harus dipertimbangkan, banyak hal yang harus aku korbankan, dan ada pihak yang harus berkorban. Aku atau orang tuaku.

Atau… aku harus merelakan impianku?

What a pity, Jogja

2016-03-12 21.55.48

Image source: Dagelan

 

I think it had already became 90% right now.

 

This afternoon I looked for another place for me to live. I can’t live here anymore the water is getting dirtier. My face and my body are itching and the acnes has started to appear again. It’s hard to find a proper place to live right now. The word proper means the rental fee.

The places I surveyed then were cost 800.000 rupiah to almost 2 millions rupiah. I have no idea why Jogja became like this.  I just pay 650.000 rupiah for my place right now and I got the whole facilities. Furniture, wifi, drink water, laundry, and it includes electric bill. But this place became expensive, too. I had this fee because I lived here since freshman year. This fee is used to be expensive if you compared with my friend’s. They only spent 400.000 – 300.000, even around 200.000 rupiah, but right now if you found the same rental fee like mine, it’s magical.. There are only a few and it’s far from the main road.

I thought about something when I was going back to my place then. Why this town changed? Why it changed to please the outsider? Why this town changed because most of students nowadays came from a rich family? Why this town, as a landlord, should be adaptive to these outsider? It SHOULD BE us being adaptive to Jogja’s lifestyle. Really, I truly and totally H.A.V.E. N.O. I.D.E.A.

If

I’ve just re – opened my old agenda and found a quote I wrote in 2011, but I forgot what was the exact date. Well, I don’t know actually. It said:
“If you’re in love with two people, pick the second. Because, if you really love the first, you wouldn’t have fallen for the second.”

I remember, while I finished writting it, this quote made me realize about that thing. I already chose since then. I chose without following this quote of advice. I chose because the feeling was real. The feeling was true and I realized it. I chose you.

Leaving Ubud

At the day we left Junjungan, we came again to Kakiang. We ordered strawberry cheese cake and puding cake.

20160228_122354The taste of their cakes were great, it was less sweet than the cakes I had before. Anyway, if you are using Grab car, I suggest you not to leave Ubud at evening because the cars are avaialble when accidentally they drop the guest(s) there. They don’t stay there.

After we back to Legian, we went to Discovery Mall first because there’s a beach behind it. On the way, I realized that it was near Waterboom Bali. I only visited it once when I was 14, I guess. I really want to go there again. Ok, back to the topic. The beach behind Discovery Mall was actually beautiful, but it was dirty. There were trashes everywhere. We even found a bird corpse. When I first saw it, the beach was like Wediombo beach in Jogja. Yeah, it was quite similar, but this beach has dark sand.

20160228_172051

The plan of spending the time there should be cancelled, so we moved to Double Six beach. It was my favorite beach here. I went there on June 2015. The beach was clean. I and Melisa even got into the water to have fun. It also has a stunning view of sunset.

20150713_175335I had a plan to have similar moment but I couldn’t. First, it was crowded. I maybe found some cars last time, but I think they’d already reproduced recently. The way to Double Six beach was narrow and it also used for parking lot. Think about when there are moving cars from opposite directions, unless you have a flying car which is like in Harry Potter you pass without bothering others. It made us hardly find a spot to park our motorbike. Second, the beach was getting dirty, too. There are bunch of trashes at the shore and animal waste. Oh God! It was only 7 months and when I came back here the beach became like this? The only thing that made me wanted to stay was the view, at least I enjoyed it.

20160228_171457