New Malioboro

image

Welcome to New Malioboro. When I was in Bali on February – March I heard about the news of the parking lot relocation in Malioboro. I personally fully support this decision because it was the sidewalk they used to be motorcycle parking spot. I, as a pedestarian, couldn’t walk freely and comfortably when there are a lot of motorcycles on the bothside of this sidewalk. And.. people come and go so sometimes I was stuck and moved to another side to continue the walk.

The first time I came after the relocation was in the begining of April, when I accompany Olivier. I didn’t have time to really enjoy this new situation. But today I enjoyed it pretty much.

Beside taking a walk, I also tried lumpia. I have never eaten anything in Malioboro except in the mall. The first time I tried to eat the street food was the same time I accompany Olivier. I tried gudeg in angkringan near Pasar Beringharjo and es dawet. The gudeg was pretty good while es dawet was… I don’t like it.

Lumpia I ate today was delicious. I even ordered 2 more portion. It’s located in front of Hotel Mutia, I think. If you know the shop called ‘Liman’, it was across it. There are only 2 menus: Chicken Lumpia and Special lumpia (with egg as the addition). What made it different with other lumpia was it served with garlic on top of it. Well, for garlic lover, it’s recommended.

image

Silly things happen when competing with boarding time

image

Pernah ngerasain kejar kejaran dengan waktu keberangkatan? Apapun itu, kereta, bis, pesawat?

Pertama kali aku mengalami itu saat aku akan pulang ke Jogja dari Jakarta. Mungkin waktu itu bulan November 2013. Saat itu baru sekitar sebulan aku bisa berjalan dengan sedikit normal tanpa kruk paska patah kaki. Waktu itu aku telat bangun, sedangkan pesawat berangkat jam 6 pagi. Baru saja sampai di bandara, aku sudah kena last call boarding padahal aku aja baru mau ngantre untuk pengecekan tiket. Jadilah waktu itu kejar – kejaran bawa koper. Dan diposisi kaki belum sembuh total TT. Alhasil, mesti bed rest sekitar 1 minggu untuk menghilangkan rasa sakit gegara memaksa lari.

Kejadian kedua baru saja terjadi bulan lalu, saat aku akan ke Bandung. Ceritanya malam sebelumnya aku sudah minta tolong Sabil, temanku untuk mengantarku ke stasiun. Awalnya masih ada tanda – tanda kehidupannya sebelum aku bersiap untuk pergi, tapi menjelang  setengah jam sebelum jam keberangkatan kok dia gak muncul – muncul?

Langsung saja aku memesan taxi dan sialnya ditengah komunikasi, telepon terputus. Aku langsung buru – buru minta tolong mbak kosan untuk mengantarku ke stasiun. Eh… sewaktu mau berangkat, tiba – tiba ada mobil taxi ALPHARD stop di depan kos. Aku bingung di badan mobil memang tertulis nomor telepon taxi yang aku pesan tadi, tapi kok yang dateng mobil ini? Aku sudah panik karna setauku kalo naik taxi dengan mobil mewah, harganya juga mewah.

Aku keluar pagar dengan ekspresi bingung bengong. Mas sopirnya bahkan bilang
“Kenapa, Mbak? Jangan bengong.” Aku tanya ke mas sopirnya
“Mas, mobilnya ini banget?”
“Iya, Mbak. Gak mahal kok”, katanya lagi.
Ya sudah deh, karena waktu sudah mepet, aku naik aja. Untungnya di jogja dan masih pagi, jadi sekitar 15 menit sudah sampao di Stasiun Tugu (walau harus lari lari lagi ke dalam karena takut telat.) Sewaktu turun mas sopirnya bilang “Mbak, jangan lupa ya promosiin ke temen temen kalo taxi Alphardnya gak mahal.” Iya, Mas. Iya. Uda aku ceritain kok ke temen temen wkaka…

Kejadian selanjutnya itu saat mau ke Bogor lagi tanggal 13 Mei lalu. Sebenarnya aku gak telat sampai di bandaranya, walau agak mepet. Yang membuat aku dan Linda kena last call waktu itu karena kami sedang di Coffee Bean. Saat itu Linda kelaparan dan kebetulan sekali makanannya baru datang saat pengumuman boarding.
“Ya sudah, makan dulu. Paling nanti kena last call.” Kataku karena pengumuman last call tidak mungkin secepat itu. Sepertinya setiap kali aku meremehkan sesuatu, sesuatu itu pasti langsung kasih balasan secara otomatis. Baru habis 3/4 makanannya, sudah diumumkan last call. Dengan buru – buru Linda makan dan kami pun lari ke boarding gate. Bapak yang bertugas pun sampai bilang “Ada temannya lagi gak, Mbak?” Dan sepertinya sih memang kami yang benar – benar terakhir.

image

Moment kejar – kejaran dengan waktu boarding lagi baru saja terjadi sekitar setengah jam yang lalu. Aku dan Asma akan pulang ke Jogja siang ini, jam 12.30. Kami yang memang sejenis, maunya nyantai tapi malah terlalu nyantai, baru berangkat ke Stasiun Bogor sekitar jam 9.30 dan sampai sepertinya sekitar jam 10 lebih. Di kereta kami sudah ketar ketir dan yang aku gak suka dengan transportasi umum Indonesia ini adalah hobi ngetem. Lama lagi. Kami baru sampai di Stasiun Gondangdia sekitar jam 12 dan langsung saja naek ojek ke Stasiun Pasar Senen.

Bapak tukang ojeknya sepertinya ngeh kalau kami mengejar waktu. Dia pun nyetirnya agak ngebut dan nyempil sana – sini. Selama di jalan aku merasa hampir jadi sandwich walau kayanya Bapaknya sudah ahli banget ngendarain motor nyempil – nyempil di tempat sempit.

Kejadian lucu terjadi waktu kami sampai di Stasiun Pasar Senen. Setelah aku bilang makasih ke Bapak ojek, aku kaget waktu menoleh ke Asma
“Ma, kok masih pake helm?” Dia juga kaget dan langsung melepas helm sambil teriak memanggil Bapak ojeknya. Sayang sekali, si Bapak tidak mendengar dan pergi begitu saja. Aku saat itu mikir kok Bapaknya gak inget sama helmnya. Nasib helmnya akhirnya selamat kok dan selama jalan ke gerbang keberangkatan aku gak berhenti ketawa. Coba saja kalo tadi aku langsung masuk ke dalam, mungkin si Asma akan bawa helm itu sampai ke Jogja.

Sewaktu masuk ke kereta, aku melihat jam 12.21. Ok, ini lebih parah dari kejadian waktu mau ke Bandung. Tapi setidaknya, kami selamat sampai di dalam kereta.

image

Sampai jumpa di Jogja.

Dari IPB sampaaaiii Pasar Senen.

image

Jauh banget ya sampe ke Pasar Senen? Ahhaha.. Ini cuma sedikit cerita pengalamanku hari ini di Bogor – Jakarta (lagi: Setelah baru aja balik ke Jogja, hari Selasa minggu ini, hari Kamis harus ke Bogor lagi karna ada psikotes. So, here I am again.)

Pagi ini aku dan Asma pergi ke IPB untuk menghadiri Seminar Bionic dari Jurisan Biologinya mengenai Stem cell. Belakangan ini aku sering ke IPB, tepatnya Fakultas Perikanannya. Tapi, acara hari ini bertempat di gedung lain. CCR yang aku bari tau singkatan dari common class room sebelum berangkat. Waktu itu aku tanya ke Pak satpam “Pak CCR (baca si si ar) dimana ya?” Eh… si Bapak dengan sewotnya bilang ke aku “si si ar? Se se er!” Buset dah.. ini Bapak kayanya gak terima banget kalo aku pake aksen Bahasa Inggris. Aku cuma iya-in aja dan tanya lagi, kali ini pake “se se er” Setelah di jelasin Bapaknya, aku beranjak pergi. Tapi, Bapaknya nyeletuk lagi ke aku “se se er neng. Si si ar..” dengan sewotnya lagi. Aku udah gak ngerti itu Bapak kenapa sampe segitu sensinya.

Setelah sampe di CCR dan registrasi, aku melihat jaket familiar, seperti almamater UGM. Mereka juga ngeliatin aku dan Asma. Eh.. taunya mereka junior kami, malah beberapa anak pernah jadi praktikanku. Me and my bad memory ._.

Habis ngobrol sama mereka kami baru tau ternyata mereka ikut lomba essay tentang tema yang sama dengan seminarnya. Aku merasa mereka keren banget berani untuk ikut lomba dengan tema yang menurutku sulit dan bergengsi. Stem cell adalah salah satu isu yang memang sedang gencar gencarnya diteliti saat ini. They came as the third winner!

image

Sehabis acara seminar, sekitar jam setengah 4, kami semua pergi ke Jakarta. Kami kesini karena para junior langsung pulang ke jogja malam ini, sedangkan aku dan Asma mau beli tiket kereta buat ke Jogja besok. Rencana pulang ke Jogja ini baru aja jadi kemarin malam. Si Asma tiba-tiba kirim WA mau ke jogja buat ke kursus Prancis dalam rangka Europe Day besok. Kami sampai di Stasiun Pasar Senen sekitar jam 8. Entah kayanya aku dan Jakarta memang uda saling benci dari sananya, bajuku robek karna nyangkut di mobil.

Suasana hectic pun dimulai saat ngurusin tiket. Asma sebenernya sudah beli tiket untuk ke Jogja tanggal 3 Juni dan dia mau ganti jadwal keberangkatan, sedangkan aku memang mau baru beli. Sayangnya, loket pembelian tadi sudah tutup. Karena ada dua kondisi yang beda, kami punya 2 pilihan: Asma langsung tuker tiket besok tanpa harus nunggu biaya refund, tapi kami belum tentu bisa dapet kursi atau kami beli tiket online sekarang dan Asma harus nunggu sebulan sampai biaya refund dikasih. Untuk cari aman kami ambil pilihan kedua.

Setelah itu, kami pergi ke Indomart dan Alfamart yang ada di stasiun tapi mereka sedang tidak melayani pembelian tiket online (sebenernya ada sedikit “telat nyambungnya” Asma yang membuat kami harus nyari-nyari kedua mart itu dan ujung ujungnya juga beli online lewat HP). Sewaktu mau bayarpun sedikit ribet karna gak diterima pake ATMnya.

Singkat cerita, kami masih terdampar di Stasiun Pasar Senen setelah pamit sama junior-junior kami. Entah kapan ini KRLnya bakal dateng, padahal katanya setengah jam lagi entah sejak jam berapa. Entah jam berapa kami bakal sampe di Bogorm lewat tengah malam mungkin?

Maap kalo ceritanya garing. Gak tau mau ngapain nunggu lama begini.. Jadi ya.. nulis cerita aja. apa adanya. Nanti deh, kalo udah seger baru di edit lagi.

A little flashback

image

(Source: Google.)

Today I mostly spent my time with Asma’s relatives. She left me to Brebes -_-. Her relatives are still in 3rd or 4th grade. When I saw them playing, I remember my childhood moments with my brothers. We usually spend the time by do running competition, cycling, do some sports like football, batminton, skipping, do something like pilates, even fighting. Maybe because I regularly have a fight with them, literally fight, I can punch and kick someone.

I miss that moment when I lived happily. When I had a hard time, there are always my parents to solve the problems. I can’t be like that anymore.

At that time I always wanted to grow up. Go anywhere far from home, I can do anything I want, I will have my own money and buy anything I like. But now, when I’ve grown up, I want to bring my old life back. I want to be a little girl again because I didn’t have to think about anything. I didn’t have to worry about life. I didn’t have  to think about the future. I didn’t have to think about love. I didn’t have to think about the past. I just have to live my life without worries, just some trivial problems about fighting with my brothers or my friends. And being stubborn and make my mom mad at me xD

If you can turn back time, what kind of thing or event would you change?

image

(Source: Google)

I’m writing a short story while I suddenly remember this. About a week ago, I attended a job test. There was a question which similar to the story I made. It’s the story I’m writing now.

The question was just like the title of this post, ” If you can turn back time, what kind of thing or event would you change?” If you were asked the similar question, what kind of answer will you give?

If I haven’t thought about it, maybe I would say is “I would change these and those and bla bla bla…” My answer was “I wouldn’t do anything.” Yes, I have regrets. I also wish things wouldn’t be the way I don’t like it. I often have thought “I should’ve been like this, I shouldn’t have been like that.” But.. The past gave me lessons and the mistakes I made became a reminder to not do it anymore. If I change those moments, I wouldn’t be in this present. If I change those moments, I couldn’t be a better person right now.

Hujan, Jakarta, dan Gojek

Jujur, dulu untuk jalan seputaran Jakarta aku maunya cuma naik mobil. Disamping mempertimbangkan keamanan, aku juga mempertimbangkan polusi udara dan keselamatan karena waktu itu pernah keserempet angkot di daerah Glodok kalo gak salah. Kalau naik mobil kan setidaknya kalau pun keserempet kan mobilnya duluan yang kena. Karena sekarang sudah ada KRL, aku jadinya berani berani aja jalan – jalan bolak balik Jakarta – Bogor atau jalan keliling Jakarta. Ditambah ada Gojek sama Grab, jadi kalo gak tau jalan ya serahin aja ke mereka. Setidaknya mereka lebih aku percaya di banding taxi yang suka banget ambil rute yang lebih panjang dan terkadang gak tau jalan pula. Entah beneran gak tau jalan apa pura – pura doang.

Jadi ceritanya hari ini aku mau nginep di kos Kathleen di Jakarta Selatan. Kebetulan Asma camping di Cibodas dan besok Waisak. Sekalian ngerasain gimana perayaan Waisak di Jakarta.

Awalnya mau berangkan jam 9 pagi, tapi Asma bilang sekalian aja waktu dia mau berangkat ke Cibodas. Unfortunately, waktu berangkat ke Stasiun Bogor hujan deres sekalee. Waktu turun di Stasiun Pasar Minggu pun mendung. Mumpung belum hujan, ya sudah lah pesen Gojek aja. Waktu naik ke motor Bapaknya tanya “Itu masuknya lewat jalan ini ya?” Sial, ini bapak gak tau jalan. Aku bilang aja aku bukan orang Jakarta, mau ke rumah temenku. Eh, si Bapak malah ngomel ngomel gak jelas. Ya sudah deh, aku telepon Kathleen dulu buat tanya detail cara kesana. Sialnya lagi, belum lama jalan turun hujan. Bapaknya bilang neduh dulu di bengkel. Berteduh sampe dua kali gara – gara waktu mulai jalan lagi malah deres banget hujannya.

Waktu lagi neduh Bapaknya pergi. Ternyata dia beli jas ujan buat aku pake. Katanya sih sebenernya si Bapak mau pake punya dia pas jalan tadi, cuma gak enakan kalo akunya basah basahan. Aku jadi gak enakan udah bentak Bapaknya tadi gegara diomelin gak jelas. Malah akhirnya ngobrol juga sama si Bapak, walau cuma aku ‘iya’in aja karena gak konek sama topik obrolannya.

Eiitt… ceritanya gak sampe disini. Malah aku nyesel udah nyesel gegara marahin balik Bapaknya tadi. Walau sudah aku bilang jalan masuk kosannya dan patokannya apa, Bapaknya masih gak ngerti. Jadi sepanjang jalan kerjaannya cuma ngomel. Bahkan pas berhenti tanya arah sama ibu ibu tadi pun, tanganku pun di tepis. Oh My God! Bahkan sempet ngomelin aku lagi. Intinya maksudnya kenapa kosan Kathleen harus di daerah itu. Ya elah pak. Kalo gak tau jalan mah jangan salahin saya juga atuh. Kalo saya orang asli daerah sini yah wajar Bapak marahin saya. Lah saya aja baru kali ini kesini. Sudah basah kaya tikus kecebur got, hp basah, low battery pula.

Hey Jakarta, segitu bencinya kamu sama aku? Don’t worry, the feeling is mutual, kok.

 

 

Pelajaran berharga hari ini:
1. Kalau mau kemana mana, turutin aja instingmu maunya apa. Kalo memang dia bilang pagi, ya pagi.

2. Awalnya (Ini muncul karna sesaat merasa bersalah ke Bapaknya tadi) Don’t judge the book by its cover. Tapi, berubah jadi: Mungkin karena aku lama hidup di Jogja, sudah dilatih untuk sopan dan halus ngomongnya. Jadinya harus belajar adaptasi lagi biar kalau ketemu Bapak-bapak macem tadi gak kaget lagi.

3. Belilah powerbank!!

Choose

Don’t do anything you don’t like. Don’t be afraid to speak it up. You can see the difference between a person who loves and doesn’t love their job. It’s obvious. They may do it well, very well, but it won’t statisfy them. Ever. In the end they will hurt themselves and they will live in regret. It’s because they had wasted so much time in their life.

My father told me this afternoon: “It’s ok you don’t get a job right now. Don’t be in a rush. Choose anything you like because when you forcefully do something, it’ll bother you.” Terribly. Just look for anything you like and then fight for it. If it meant to be yours, there will be a way for you to get it.

Kalibiru

IMG_20160506_144931

Yesterday we went to Kalibiru. I really wanted to go there because I saw beautiful pictures of it in my social media. There was this photo spot which on a tree. I thought it was wide enough so it can fit 2 people. Maybe 3 or 4. But when I came there and saw it directly, it broke my expectation. Yeah.. praise the power of photo effect. Although it wasn’t as good as I expect, at least the view of Waduk Sermo was beautiful and we had fun!

IMG_20160506_102553